PRIBADI PRUDENTIAL INDONESIA

10 Juli 2008

Ayo, Nonton Gamelan Kelas Dunia di Yogya

Filed under: Berita Utama — thedi76 @ 8:22 am

Hari Kamis (10/7) ini hingga Sabtu mendatang, Yogyakarta Gamelan Festival, event yang menampilkan pertunjukan gamelan kelas dunia, kembali digelar. Pada penyelenggaraan ke-13 ini, hanya para musisi profesional yang dijadwalkan unjuk penampilan.

Peserta 13th Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) bertema Gamelan Everywhere ini, antara lain Alex Dea (Amerika Serikat), mahasiswa dan pelajar University of California Santa Cruz, dan Gamma Rays (Singapura).  Alex Dea juga mengisi YGF 2007.

Selain mereka ada kelompok LOS asal Solo, dan D’Lima dari Taman Budaya Jawa Timur. Seniman yang juga Director YGF Sapto Rahardjo mengatakan, sesuai masterplan YGF, pada penyelenggaraan ke-13 sekarang, YGF memang memberi ruang bagi musisi profesional.

“Walau begitu, YGF sekarang juga menampilkan para pelajar SD. Tahun lalu ada Gamelan Gaul, ajang bagi kaum muda untuk bergamelan, yang kami satukan di YGF 2007. Namun tahun ini, penyelenggaraan Gamelan Gaul dipisah, ke bulan Oktober,” ucapnya, Selasa (9/7).

YGF memertemukan gamelan dengan beragam seni budaya dari berbagai penjuru dunia. Menurut Sapto, dengan tema Gamelan Everywhere, YGF berupaya memasyarakatkan kembali gamelan. Tujuannya agar bisa didengarkan dan dimainkan kembali di mana saja.

Namun gamelan juga tidak hanya dimainkan sebatas dalam konteks budaya karena bisa merambah konteks pendidikan, industri, dan lain-lain. Gamelan adalah sebentuk spirit, bukan obyek. Dengan demikian instrumen gamelan sejatinya hanyalah media.

Rangkaian acara YGF yang dipusatkan di Societeit Taman Budaya Yogyakarta (TBY) ini diselenggarakan Komunitas Gayam 16 bersama TBY, Geronimo FM, dan Blass Group. Selain pementasan gamelan, YGF juga diisi dengan workshop, pameran, dan gamelan on air.

“Karena YGF tahun ini diisi para musisi profesional yang hidup dari keahlian mereka, penampilannya pun berdurasi panjang. Kalau pada YGF 2007 lalu dalam sehari bisa sampai tujuh kelompok yang pentas, sekarang hanya tiga,” kata Sapto.

Dalam acara tumpengan di Gayam 16, Rabu (9/7), musisi Alex Dea dari Amerika Serikat mengungkapkan, kecintaan akan gamelan harus ditumbuhkan mulai dari mengenalkan gamelan oleh orangtua, guru, dan kemauan dari diri sendiri. Dengan begitu, tidak akan ada generasi yang hilang, yang tidak mengenal budayanya sendiri.

Tantangan para musisi yang memainkan gamelan saat ini menurut Dea adalah bagaimana membuat komposisi kontemporer bisa seabadi komposisi klasik. “Selama ini komposisi kontemporer hanya dimainkan sesaat lalu hilang. Saya sendiri belum memahami kenapa. Tetapi yang pasti, sesuatu yang dibuat instan lama kelamaan akan ditinggalkan,” katanya.

Kepala Badan Pariwisata Daerah (Baparda) DI Yogyakarta Tazbir Abullah mengungkapkan, ajang ini merupakan salah satu penegasan bahwa Yogyakarta merupakan ibu kota budaya Indonesia. “Apresiasi masyarakat di Yogyakarta sangat tinggi terhadap seni dan budaya, karena itu banyak kalangan merasa senang pentas di kota ini,” kata Tazbir.

Tazbir juga menuturkan, ke depan segala jenis pertunjukan seni dan budaya akan dikelola secara lebih baik. Mulai dari plot waktu pelaksanaan dan tempat, hingga pembiayaan. Sejauh ini, Tazbir mengakui manajemen seni dan budaya di Yogyakarta masih kurang.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: