Sudah menjadi siklus tahunan, setiap menjelang tahun ajaran baru pedagang perlengkapan sekolah memasuki musim panen. Meski demikian, secara umum para pedagang tidak menaikkan harga.
“Sebenarnya sepatu yang lama masih ada, tapi setiap ajaran baru sekolah anak-anak minta dibeliin sepatu baru. Ya kita beliin sepasang sepatu seharga Rp 59.900,” kata Tety, ibu dua anak yang ditemui di outlet Sepatu Bata di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (7/7).
Hal yang sama dikatakan Ny Ani yang sedang membelikan sepatu anaknya yang baru sekolah di Taman Kanak-kanak. Sepatu warna pink seharga Rp 89.900 dibelikan untuk putri semata wayangnya. “Biar sekolahnya bersemangat meski harga sepatu barunya hanya Rp 89.900,” katanya.
Menurut salah satu pegawai outlet Bata yang enggan menyebut namanya, hari Minggu (6/7) ketika toko baru buka tiga jam, sedikitnya 200 pasang sepatu terjual. Meningkatnya penjualan sepatu juga dialami pedagang kaki lima di Asemka dan Pasar Minggu. Di Asemka harga sepatu warna hitam mulai Rp 25.000 sampai Rp 30.000, sedangkan di Pasar Minggu mulai Rp 40.000 sampai Rp 45.000. Harga tersebut masih bisa ditawar dan pada umumnya bisa turun Rp 5.000.
“Yang paling laku sepatu warna hitam. Setiap hari bisa menjual 50 pasang, makanya stok sepatu warna hitam kita perbanyak,” kata Teguh pedagang sepatu di Asemka.
Mudik
Sementara itu, dari pemantauan Warta Kota di pusat perdagangan garmen dan tekstil di Pasar Tanahabang, permintaan akan pakaian seragam sekolah secara eceran meningkat. “Sejak awal bulan Juli, banyak ibu-ibu yang belanja seragam sekolah. Satu hari bisa terjual sampai 100 kodi untuk melayani pembelian eceran,” ungkap H Sjafruddin; pedagang seragam sekolah dari toko Bradhers.
Peningkatan permintaan akan pakaian seragam sekolah secara eceran juga dialami Harkat dari toko Tiga Sekawan. “Jika sebelumnya satu hari bisa menjual 10 kodi, sejak awal bulan ini mampu menjual 25 kodi per hari. Semakin mendekati hari masuk sekolah, pembehan seragam sekolah secara eceran makin ramai,” katanya.
Meski terjadi peningkatan akan pakaian seragam sekolah, tidak semua pedagang bisa memenuhi permintaan dan harga jual relatif stabil. Sebab, sekarang ini kesulitan mencari tukang jahit. “Sekarang ini saya tidak bisa berproduksi secara optimal. Karena tukang jahit pada pulang kampung untuk mengurus anaknya sekolah,” kata Harkat.
Demikian juga dengan pengakuan H Sjafruddin. “Sejak bulan Juni lalu, tukang jahit dari Pekalongan dan Sukabumi pada mudik. Untungnya saya sudah produksi sejak akhir tahun lalu,” ucapnya.













