Warga Sumut, khususnya Kota Medan, dihebohkan dengan rumor mengenai adanya telepon dan pesan layanan singkat (SMS) santet yang dapat disebut-sebut dapat menyebabkan tewasnya penerima telepon dan pembacanya.
Berdasarkan pantauan di Medan, kehebohan itu disikapi dengan anjuran terhadap sesama warga agar tidak menerima telepon atau membaca SMS dari nomor telepon misterius yang berujung angka 6666 tersebut.
Menurut warga, ciri-ciri telepon dan SMS horor selalu berujung angka 6666 dan menampilkan warna merah pada angka dan tulisannya. Sedangkan bagi masyarakat yang mengangkat telepon atau membaca SMS tersebut akan dapat menimbulkan bencana seperti meninggal dunia, kata mereka.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Prof.DR.H. Abdullah Syah, MA mengimbau agar masyarakat tidak mempercayai rumor yang “berbau” syirik tersebut. Menurut dia, rumor tersebut sangat meresahkan dan tidak perlu dipercayai karena dapat merusak aqidah (keyakinan) beragama. “Hidup dan mati manusia telah ditentukan Tuhan dan bukan disebabkan karena menerima telepon atau SMS,” katanya.
Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Baharuddin Djafar ketika dihubungi mengatakan, pihaknya sangat terkejut mengetahui adanya telepon dan sms horor tersebut. Polisi akan menyelidiki kabar tersebut meski akan sangat sulit karena memiliki mata rantai rumor yang sangat panjang, katanya.
Namun, kata Baharuddin, polisi mengimbau agar masyarakat tidak mudah terpancing dengan rumor yang dapat mengganggu keyakinan agama tersebut. Masyarakat diminta lebih menguatkan keimanan sehingga tidak mudah termasuk kabar yang dapat mengganggu keamanan.
Ia menganjurkan agar masyarakat tidak membesarkan kabar tersebut dan menghapus pesan yang diterima jika mendapatkan SMS tentang telepon horor tersebut. “Perkuat iman, karena keimanan sangat erat kaitannya dengan keamanan,” katanya menegaskan.













